Menghadapi puncak musim kemarau dan potensi cuaca ekstrem El Nino, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Kalimantan Barat bersama lintas sektor memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Upaya tersebut dilakukan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapsiagaan Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla Tahun 2026 yang digelar di Kantor UPT KPH Wilayah Sintang Utara, Kamis (20/8/2026).
Kepala UPT KPH Wilayah Sintang Utara membuka kegiatan mewakili Kepala Dinas LHK Provinsi Kalimantan Barat sekaligus menyampaikan arahan strategis pimpinan terkait langkah pencegahan dan penanggulangan Karhutla.
Dalam sambutan tertulisnya, Kepala Dinas LHK Kalimantan Barat, Ir. H. Adi Yani, M.H., menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim gabungan di tingkat tapak atas upaya yang dilakukan dalam menekan luas kawasan terdampak kebakaran di Kabupaten Sintang.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan Nasional (SIPONGI) hingga pertengahan Agustus 2026, luas area terdampak Karhutla di Kabupaten Sintang tercatat sekitar 139,82 hektare. Angka tersebut relatif terkendali jika dibandingkan dengan total 38.310,89 hektare area terdampak kebakaran di seluruh Kalimantan Barat.
Capaian tersebut dinilai menunjukkan pentingnya deteksi dini dan respons pemadaman yang cepat dalam mengendalikan penyebaran kebakaran. Meski demikian, seluruh pihak diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama menghadapi periode puncak musim kemarau.
“Pencapaian ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan bukti bahwa deteksi dini dan upaya pemadaman berjalan efektif. Namun, kita tidak boleh lengah sedikit pun, mengingat Sintang memiliki kawasan bentang alam luas yang menyangkut kawasan perbatasan negara,” tegas Kepala KPH Sintang Utara saat membacakan pesan Kepala Dinas LHK Kalbar.
Posisi geografis dan luasnya bentang alam Sintang menjadi perhatian tersendiri dalam penanganan Karhutla. Pencegahan dan pengendalian kebakaran tidak hanya penting untuk melindungi kawasan hutan dan lingkungan, tetapi juga untuk meminimalkan potensi kabut asap yang dapat meluas hingga melintasi batas wilayah.
Melalui rakor tersebut, koordinasi lintas sektor diharapkan semakin kuat, mulai dari upaya pencegahan, pemantauan dan deteksi dini, hingga respons cepat ketika ditemukan titik api. Kesiapsiagaan bersama menjadi kunci untuk menjaga kondisi Karhutla di Sintang tetap terkendali selama musim kemarau 2026.
